Indonesia Terpuruk di Posisi 15 Asian Games 2026, 27 Medali Belum Cukup Bicara

Sempetin.com – Perolehan medali Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 masih jauh dari kata aman. Hingga Selasa, 29 September 2026 pagi, kontingen Merah Putih berada di posisi ke-15 klasemen sementara dengan koleksi 2 medali emas, 5 perak, dan 20 perunggu atau total 27 medali.

Angka tersebut sekilas terlihat cukup besar jika hanya menghitung jumlah medali. Namun, klasemen Asian Games tidak ditentukan berdasarkan total medali semata. Emas menjadi penentu utama, kemudian perak dan perunggu digunakan sebagai pembeda apabila jumlah emas sama.

Di titik inilah persoalan Indonesia terlihat lebih jelas.

Dengan hanya dua emas pada posisi tersebut, Indonesia harus bekerja jauh lebih keras jika ingin memperbaiki posisi di tengah persaingan negara-negara Asia yang sudah mengumpulkan emas dalam jumlah signifikan. Data klasemen yang dirilis pada pagi 29 September menunjukkan China berada jauh di puncak dengan 132 emas, disusul Jepang dengan 41 emas dan Korea Selatan dengan 21 emas. 

Bukan Soal Banyaknya Medali, tetapi Kualitas Emas

Koleksi 27 medali Indonesia memang bukan angka kecil.

Masalahnya, komposisinya memperlihatkan bahwa jumlah medali belum berbanding lurus dengan posisi Indonesia di klasemen.

Dari 27 medali tersebut, hanya dua yang berupa emas. Sebanyak lima merupakan perak dan 20 lainnya perunggu. Sementara itu, Malaysia yang berada di posisi ke-10 sudah mengumpulkan enam emas, sedangkan Thailand di posisi keenam memiliki sembilan emas.

Perbandingan tersebut memberikan gambaran sederhana: Indonesia masih mengoleksi cukup banyak medali, tetapi belum cukup banyak medali yang mengubah posisi di klasemen.

Ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pembinaan olahraga nasional.

Sebab, keberhasilan di ajang multi-event seperti Asian Games tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak atlet yang mampu naik podium. Kemampuan mengubah peluang menjadi emas juga menentukan posisi akhir sebuah kontingen.

Indonesia Turun, Qatar Menyalip

Pada klasemen sementara pagi 29 September, Indonesia turun ke posisi ke-15 setelah Qatar menempati peringkat ke-14.

Qatar mengoleksi tiga emas, dua perak, dan dua perunggu atau tujuh medali. Dengan keunggulan satu emas, Qatar berada di atas Indonesia meskipun jumlah total medalinya jauh lebih sedikit. 

Fakta ini sekaligus memperlihatkan bagaimana sistem klasemen bekerja.

Indonesia memiliki 27 medali, sedangkan Qatar hanya tujuh. Namun Qatar berada di atas karena memiliki tiga emas, sementara Indonesia baru mengumpulkan dua.

Dengan demikian, narasi bahwa Indonesia memiliki banyak medali tidak otomatis berarti posisi Indonesia kuat.

Thailand dan Malaysia Memberikan Cermin yang Sulit Diabaikan

Kondisi Indonesia juga menarik jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Thailand berada di posisi keenam dengan sembilan emas. Malaysia berada di peringkat ke-10 dengan enam emas. Indonesia berada di posisi ke-15 dengan dua emas pada pembaruan klasemen pagi tersebut. 

Perbedaan ini membuat persoalan Indonesia tidak bisa hanya dijelaskan dengan alasan persaingan negara-negara besar seperti China, Jepang, atau Korea Selatan.

Di kawasan ASEAN pun terdapat kontingen yang mampu mengumpulkan emas lebih banyak.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar mengapa Indonesia kalah dari negara-negara dengan kekuatan olahraga jauh lebih besar.

Pertanyaan yang lebih relevan adalah: mengapa konversi peluang menjadi emas Indonesia masih tertinggal dari sejumlah negara tetangga?

Masih Ada Peluang Membalikkan Keadaan

Namun, klasemen pagi 29 September bukan hasil akhir.

Pada hari yang sama, Indonesia masih memiliki peluang melalui cabang bulu tangkis. Pasangan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin tampil di final ganda putra, sedangkan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah tampil di final ganda campuran. 

Peluang tersebut kemudian berubah menjadi tambahan medali.

Leo/Daniel berhasil merebut emas ganda putra, sedangkan Amri/Nita mendapatkan perak. Dengan tambahan tersebut, Indonesia naik menjadi tiga emas, enam perak, dan 20 perunggu. Indonesia kemudian dilaporkan naik ke posisi ke-14 klasemen sementara.

Artinya, judul mengenai posisi ke-15 harus dibaca dalam konteks waktu: angka tersebut merupakan kondisi sebelum hasil final bulu tangkis mengubah klasemen.

Bulu Tangkis Lagi-Lagi Menjadi Penyelamat

Ada satu pola yang sulit diabaikan dari perkembangan tersebut.

Ketika Indonesia membutuhkan tambahan emas untuk mengangkat posisi klasemen, bulu tangkis kembali menjadi salah satu cabang yang memberikan kontribusi penting.

Leo/Daniel menjadi penyumbang emas ketiga Indonesia setelah memenangkan final ganda putra Asian Games 2026. 

Prestasi tersebut tentu layak diapresiasi.

Namun, dari perspektif pembinaan olahraga nasional, ketergantungan pada cabang-cabang tertentu juga layak menjadi bahan evaluasi. Asian Games mempertandingkan banyak cabang olahraga. Jika tambahan emas secara signifikan masih sangat bergantung pada sejumlah cabang unggulan, pemerataan prestasi menjadi pekerjaan yang belum selesai.

Kritiknya bukan ditujukan kepada atlet.

Justru sebaliknya, prestasi atlet menunjukkan bahwa ketika persiapan dan kualitas kompetisi menghasilkan performa puncak, emas tetap bisa diraih.

Yang patut dipertanyakan adalah seberapa konsisten sistem pembinaan mampu menghasilkan lebih banyak atlet dan tim yang bersaing untuk emas di berbagai cabang.

Total Medali Besar, Posisi Belum Menggambarkan Kekuatan

Perolehan 27 medali pada pagi 29 September memperlihatkan bahwa Indonesia bukan tanpa prestasi.

Namun, data yang sama juga menunjukkan adanya persoalan konversi podium.

Dua emas dari 27 medali membuat Indonesia berada di bawah sejumlah negara yang jumlah total medalinya lebih sedikit tetapi memiliki koleksi emas lebih banyak. Qatar adalah salah satu contohnya.

Karena itu, evaluasi prestasi Indonesia di Asian Games sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa medali yang didapat?”

Pertanyaan yang lebih tajam adalah:

Berapa emas yang ditargetkan? Berapa yang realistis? Cabang mana yang gagal memenuhi target? Di mana terjadi peningkatan? Dan bagaimana peluang podium emas tersebut dibangun sejak tingkat pembinaan atlet?

Tanpa evaluasi semacam itu, tabel klasemen hanya akan menjadi daftar angka yang berubah setiap hari.

Posisi Bisa Naik, Tetapi Evaluasi Tetap Diperlukan

Tambahan emas Leo/Daniel dan perak Amri/Nita membuktikan bahwa posisi Indonesia masih bisa bergerak. Dari posisi ke-15 pada pagi hari, Indonesia kemudian naik ke peringkat ke-14.

Namun, perubahan posisi dalam satu hari tidak seharusnya menutup persoalan yang terlihat dari data sebelumnya.

Asian Games masih berlangsung. Posisi Indonesia masih dapat berubah seiring bertambahnya medali.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah pesta olahraga berakhir.

Jika Indonesia ingin memiliki posisi yang lebih kuat pada ajang berikutnya, evaluasi tidak cukup dilakukan berdasarkan jumlah medali. Struktur pembinaan, distribusi anggaran, pemilihan cabang prioritas, regenerasi atlet, kualitas kompetisi, dan kemampuan mengonversi peluang menjadi emas harus dibedah secara terbuka.

Sebab pada akhirnya, 27 medali memang menunjukkan ada prestasi. Tetapi posisi klasemen menunjukkan masih ada pekerjaan besar yang belum selesai.

More From Author

Keamanan Lapas Cibinong Dipertanyakan: Jalur Belakang hingga Hunian Mewah Jadi Sorotan

G30S 1965: Apa yang Terjadi pada Malam 30 September dan Mengapa Sejarahnya Masih Diperdebatkan?