Sempetin.com – Final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia dan Thailand bukan hanya persoalan 90 menit di lapangan.
Ketika puluhan ribu suporter bergerak menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), persoalan sebenarnya ikut bergeser ke jalan raya: mampukah Jakarta mengendalikan mobilitas kota tanpa membuat warga yang tidak menonton pertandingan ikut menanggung kemacetannya?
Pertandingan final Indonesia melawan Thailand dijadwalkan berlangsung di GBK, Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026. Stadion bahkan telah dipastikan penuh setelah sekitar 67.000 tiket terjual habis.
Situasi ini membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan rekayasa lalu lintas dan sejumlah rute alternatif.
Namun, langkah tersebut juga memperlihatkan satu persoalan klasik Jakarta: infrastruktur jalan masih harus bekerja ekstra keras setiap kali sebuah acara besar memusatkan puluhan ribu orang di satu kawasan.
Erick Thohir Berada di Tengah Euforia Final
Penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup 2026 mendapat perhatian besar pemerintah.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir, yang juga menjabat Ketua Umum PSSI, menjadi salah satu figur utama dalam persiapan turnamen tersebut.
Erick sebelumnya menegaskan Indonesia ingin menjadi tuan rumah yang baik, termasuk memastikan kenyamanan dan keamanan peserta serta suporter. Ia juga mengimbau pendukung Indonesia menyambut suporter negara lain dengan baik.
Pesan tersebut penting.
Tetapi menjadi tuan rumah yang baik tidak cukup hanya dengan stadion yang penuh, pertandingan yang aman, dan atmosfer suporter yang meriah.
Transportasi juga merupakan bagian dari kualitas penyelenggaraan.
Jika pertandingan selesai dan ribuan kendaraan keluar bersamaan, ukuran keberhasilan bukan lagi jumlah penonton yang masuk stadion, melainkan seberapa cepat kota mampu mengurai arus manusia dan kendaraan tanpa melumpuhkan kawasan sekitar.
80 Petugas Dishub Disiagakan
Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyiapkan 80 petugas untuk membantu pengaturan lalu lintas di sekitar GBK.
Kepala Dishub DKI Jakarta Budi Awaluddin mengatakan pengaturan dilakukan secara situasional dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas di lapangan.
Artinya, rekayasa lalu lintas dapat menyesuaikan kondisi aktual, bukan semata-mata mengikuti skenario yang sudah dibuat di atas kertas.
Ini merupakan langkah yang masuk akal.
Tetapi pertanyaan kritisnya sederhana:
Apakah 80 petugas cukup menghadapi konsentrasi massa sebesar ini?
Jawabannya tentu sangat bergantung pada situasi di lapangan.
Karena masalah kemacetan di sekitar GBK tidak hanya ditentukan oleh jumlah petugas, tetapi juga perilaku pengendara, kendaraan pribadi, taksi daring, bus, parkir, pergerakan suporter, hingga arus kendaraan yang sama sekali tidak berkaitan dengan pertandingan.
Warga Selatan Jangan Memaksa Lewat Koridor GBK
Dishub DKI sudah menyiapkan beberapa rute alternatif.
Bagi masyarakat dari Blok M menuju Tanah Abang, jalur yang disarankan antara lain melalui Jalan Panglima Polim, Jalan Kyai Maja, Jalan Sultan Iskandar Muda, Jalan Teuku Nyak Arief, Jalan Tentara Pelajar, Jalan Penjernihan, hingga Jalan KH Mas Mansyur.
Sementara perjalanan dari Blok M menuju Slipi dapat dialihkan melalui Panglima Polim, Kyai Maja, Sultan Iskandar Muda, Teuku Nyak Arief, Tentara Pelajar, kemudian Jalan Letjen S. Parman.
Untuk masyarakat dari Blok M menuju Timur atau Kampung Melayu, Dishub mengarahkan pengguna jalan melalui koridor Trunojoyo, Wolter Monginsidi, Gunawarman, Senopati, Suryo, Kapten Tendean, HR Rasuna Said, Prof Dr Satrio, hingga Raya Casablanca.
Pesannya jelas:
Jangan menjadikan kawasan GBK sebagai jalur tembus ketika pertandingan berlangsung.
Dari Utara, Hindari Menambah Beban Jalan di Sekitar Stadion
Pengendara dari arah Tanah Abang menuju Blok M juga disiapkan jalur alternatif.
Rute yang dapat digunakan mencakup KH Mas Mansyur, Penjernihan, Pejompongan, Tentara Pelajar, Teuku Nyak Arief, Kebayoran Baru, Kyai Maja, hingga Panglima Polim.
Skema tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah mencoba memecah arus kendaraan agar tidak seluruhnya bertemu di sekitar GBK.
Namun, rekayasa lalu lintas tetap memiliki batas.
Ketika terlalu banyak kendaraan memilih jalan yang sama sebagai “jalan alternatif”, jalan alternatif itu sendiri dapat berubah menjadi sumber kemacetan baru.
Karena itu, keberhasilan rekayasa tidak hanya ditentukan oleh daftar rute, tetapi juga seberapa efektif informasi tersebut diterima pengendara sebelum mereka memasuki kawasan padat.
Dari Barat dan Timur Juga Disiapkan Jalur Pengalihan
Pengendara dari Slipi menuju Blok M dapat menggunakan koridor Jalan Letjen S. Parman, Tentara Pelajar, Teuku Nyak Arief, Kebayoran Baru, Pakubuwono VI, Jalan Bumi, Kyai Maja, hingga Panglima Polim.
Sedangkan kendaraan dari Slipi menuju Tebet diarahkan melalui Jalan S. Parman, Pejompongan, Penjernihan, RM Margono, Galunggung, Dr Saharjo, Prof Dr Soepomo, dan MT Haryono.
Untuk arus dari Tebet menuju Slipi, salah satu alternatif yang disiapkan melalui Kapten Tendean, Wolter Monginsidi, Trunojoyo, Kyai Maja, Sultan Iskandar Muda, Teuku Nyak Arief, Tentara Pelajar, dan Letjen S. Parman.
Daftar tersebut panjang.
Dan justru di situlah persoalannya.
Jika sebuah pertandingan membutuhkan pengalihan arus ke begitu banyak koridor utama Jakarta, berarti dampaknya memang tidak lagi bersifat lokal.
Final Sepak Bola, Tetapi Dampaknya Satu Kota
Final Indonesia versus Thailand memang digelar di GBK.
Tetapi efeknya bisa terasa jauh dari Senayan.
Arus kendaraan yang dialihkan dari satu koridor akan masuk ke koridor lainnya. Setiap perubahan arah memiliki konsekuensi terhadap ruas jalan berikutnya.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan rekayasa lalu lintas tidak berhenti pada pemasangan rambu atau pengerahan petugas.
Informasi harus sampai kepada pengendara sebelum mereka terjebak.
Inilah bagian yang sering menjadi kelemahan dalam penanganan acara besar: masyarakat baru mengetahui adanya penutupan atau pengalihan ketika sudah berada di depan titik kemacetan.
Jika hal itu terjadi, rute alternatif hanya menjadi solusi di atas kertas.
Polisi Kerahkan Lebih dari 10 Ribu Personel
Pengamanan final juga dilakukan dalam skala besar.
Polda Metro Jaya mengerahkan 10.121 personel gabungan untuk mengamankan pertandingan Indonesia melawan Thailand di GBK. Pengamanan mencakup penempatan personel, mobilitas suporter, rekayasa lalu lintas, dan skenario kontingensi.
Angka tersebut menunjukkan besarnya skala pertandingan.
Namun, pengerahan personel dalam jumlah besar tidak boleh dipahami semata-mata sebagai simbol kesiapan.
Yang lebih penting adalah bagaimana personel tersebut bekerja di lapangan.
Apakah arus suporter terpisah dengan baik? Apakah kendaraan dapat bergerak? Apakah masyarakat umum tetap bisa beraktivitas? Dan apakah skenario setelah pertandingan sudah benar-benar dihitung?
Pertanyaan itu penting karena puncak persoalan lalu lintas justru bisa terjadi setelah pertandingan selesai, ketika penonton keluar dalam waktu yang hampir bersamaan.
Pemerintah Jangan Hanya Sibuk Mengamankan Stadion
Ada kecenderungan setiap pertandingan besar dilihat dari sudut pandang stadion: keamanan pemain, keamanan penonton, dan kelancaran pertandingan.
Padahal sebuah event internasional tidak berlangsung hanya di dalam stadion.
Ia berlangsung di jalan.
Di stasiun.
Di halte.
Di trotoar.
Di kawasan perdagangan.
Dan di jalan-jalan yang dilewati warga yang bahkan tidak tahu-menahu soal pertandingan.
Karena itu, keberhasilan penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup semestinya diukur lebih luas.
Indonesia memang ingin menunjukkan kemampuan menjadi tuan rumah yang baik. Erick Thohir juga telah menekankan pentingnya keamanan, kenyamanan, dan keramahan terhadap suporter tamu.
Tetapi keramahan sebagai tuan rumah bukan hanya soal menyambut tamu.
Warga Jakarta yang tidak menonton pertandingan juga berhak mendapatkan kota yang tetap bisa bergerak.
Rute Alternatif Bukan Alasan untuk Membiarkan Kemacetan
Pengumuman rute alternatif merupakan langkah antisipasi yang diperlukan.
Tetapi jangan sampai keberadaan rute alternatif justru dijadikan alasan bahwa persoalan lalu lintas sudah selesai.
Belum.
Kemacetan baru bisa disebut terkendali ketika arus kendaraan benar-benar terurai.
Karena itu, evaluasi setelah pertandingan menjadi penting.
Pemerintah harus melihat ruas mana yang macet, kapan puncaknya terjadi, apakah informasi rute efektif, bagaimana mobilitas transportasi umum, dan apakah masyarakat umum mengalami gangguan signifikan.
Tanpa evaluasi, setiap event besar hanya akan mengulang pola yang sama:
acara datang, jalan dialihkan, warga macet, lalu semua kembali normal tanpa pernah benar-benar belajar.
Final FIFA ASEAN Cup Harus Menjadi Ujian Tata Kelola
Final Indonesia versus Thailand adalah panggung besar bagi sepak bola Indonesia.
Namun bagi pemerintah, ini juga merupakan ujian tata kelola.
Erick Thohir sebagai Menpora punya tanggung jawab pada sisi penyelenggaraan olahraga nasional. Sementara pengaturan jalan merupakan ranah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dishub, dengan dukungan kepolisian untuk keamanan dan rekayasa lalu lintas.
Pembagian kewenangan itu harus berjalan tanpa saling melempar tanggung jawab.
Sebab bagi masyarakat, siapa yang bertanggung jawab secara administratif bukanlah persoalan utama.
Yang mereka rasakan hanya satu: lancar atau macet.
Mereka tidak membutuhkan alasan setelah jalan terlanjur lumpuh.
Mereka membutuhkan sistem yang bekerja sebelum masalah terjadi.
Final FIFA ASEAN Cup 2026 seharusnya menjadi kesempatan Indonesia menunjukkan bahwa menjadi tuan rumah bukan hanya tentang meriah di dalam stadion.
Menjadi tuan rumah berarti mampu mengelola dampak sebuah acara besar terhadap kota.
Jika Indonesia ingin dikenal sebagai penyelenggara event olahraga kelas internasional, maka ukuran keberhasilannya tidak cukup dengan sorak-sorai di GBK.
Ukuran sebenarnya adalah apakah setelah peluit akhir berbunyi, Jakarta masih mampu bergerak.


