Sempetin.com – Salat Jumat merupakan salah satu ibadah paling istimewa dalam Islam. Setiap hari Jumat, jutaan umat Islam di seluruh dunia berkumpul di masjid untuk melaksanakan salat berjamaah yang didahului dengan khutbah. Selain menjadi kewajiban bagi laki-laki Muslim yang memenuhi syarat, salat Jumat juga menjadi simbol persatuan, ukhuwah, dan syiar Islam.
Namun, tidak semua orang mengetahui bagaimana sejarah salat Jumat bermula. Kapan ibadah ini pertama kali dilaksanakan? Mengapa hari Jumat dipilih sebagai hari yang istimewa? Dan bagaimana perkembangan salat Jumat dari masa Rasulullah SAW hingga menjadi tradisi ibadah umat Islam di berbagai penjuru dunia?
Artikel ini akan mengulas sejarah salat Jumat berdasarkan Al-Qur’an, hadis sahih, serta penjelasan para ulama agar memberikan pemahaman yang utuh mengenai salah satu ibadah terpenting dalam Islam.
Hari Jumat Sebelum Datangnya Islam
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab telah mengenal hari-hari dalam satu pekan, tetapi hari Jumat belum memiliki kedudukan khusus seperti sekarang.
Dalam beberapa riwayat sejarah disebutkan bahwa nama Al-Jumu’ah berasal dari kata jama’a yang berarti berkumpul. Nama tersebut kemudian digunakan karena pada hari itu masyarakat berkumpul untuk berbagai keperluan.
Menurut sebagian ulama, nama Jumat mulai dikenal luas menjelang masa kerasulan Nabi Muhammad SAW dan kemudian dimuliakan melalui syariat Islam.
Awal Mula Disyariatkannya Salat Jumat
Salat Jumat mulai disyariatkan setelah Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa salat Jumat belum diwajibkan ketika Rasulullah masih berada di Makkah. Saat itu, umat Islam masih menghadapi tekanan dan belum memiliki kebebasan untuk melaksanakan ibadah secara terbuka.
Setelah hijrah ke Madinah pada tahun pertama Hijriah, kondisi masyarakat Muslim menjadi lebih stabil. Di sinilah Allah SWT menurunkan syariat yang menjadikan salat Jumat sebagai ibadah wajib bagi laki-laki Muslim yang memenuhi syarat.
Dalil utama mengenai kewajiban salat Jumat terdapat dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Ayat ini menjadi dasar utama kewajiban salat Jumat dalam Islam.
Salat Jumat Pertama dalam Sejarah Islam
Menurut banyak riwayat yang diriwayatkan para ahli sejarah Islam, salat Jumat pertama dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW ketika beliau sedang dalam perjalanan hijrah menuju Madinah.
Sebelum tiba di pusat Kota Madinah, Rasulullah singgah di wilayah perkampungan Bani Salim bin Auf, tepatnya di lembah Ranuna. Di tempat inilah beliau melaksanakan salat Jumat pertama bersama para sahabat sekaligus menyampaikan khutbah.
Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun pertama Hijriah dan menjadi tonggak dimulainya pelaksanaan salat Jumat secara berjamaah dalam Islam.
Lokasi tersebut kini dikenal sebagai Masjid Al-Jumu’ah, salah satu masjid bersejarah yang sering dikunjungi jamaah umrah dan haji.
Khutbah Jumat Menjadi Bagian Penting Ibadah
Sejak awal disyariatkan, salat Jumat tidak hanya terdiri dari salat berjamaah dua rakaat, tetapi juga didahului oleh dua khutbah.
Khutbah memiliki fungsi yang sangat penting karena menjadi media dakwah, penyampaian nasihat, penguatan akidah, hingga penyampaian berbagai persoalan umat.
Rasulullah SAW selalu menyampaikan khutbah dengan bahasa yang jelas, singkat, tetapi penuh makna. Isi khutbah beliau biasanya berisi ajakan bertakwa kepada Allah SWT, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, mengingatkan tentang kehidupan akhirat, dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Tradisi tersebut terus dipertahankan hingga sekarang dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah salat Jumat.
Keutamaan Hari Jumat dalam Islam
Hari Jumat memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai penghulu segala hari.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa hari terbaik saat matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, dimasukkan ke surga, kemudian diturunkan ke bumi.
Selain itu, terdapat satu waktu pada hari Jumat yang diyakini sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Karena itulah umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur’an, dan berselawat kepada Nabi Muhammad SAW pada hari tersebut.
Keutamaan-keutamaan inilah yang membuat hari Jumat memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi dibanding hari-hari lainnya.
Perkembangan Salat Jumat dari Masa ke Masa
Setelah Rasulullah SAW wafat, tradisi salat Jumat terus dilaksanakan pada masa Khulafaur Rasyidin.
Para khalifah menjadikan khutbah Jumat sebagai sarana menyampaikan kebijakan pemerintahan sekaligus memberikan nasihat kepada masyarakat.
Ketika Islam menyebar ke berbagai wilayah seperti Persia, Afrika Utara, Andalusia, Asia Selatan, hingga Nusantara, salat Jumat ikut berkembang menjadi salah satu simbol utama keberadaan komunitas Muslim.
Di Indonesia sendiri, salat Jumat telah menjadi tradisi keagamaan yang sangat kuat sejak masuknya Islam sekitar abad ke-13. Masjid-masjid kuno seperti Masjid Agung Demak menjadi saksi perkembangan syiar Islam melalui pelaksanaan salat Jumat secara berjamaah.
Hingga kini, pelaksanaan salat Jumat tetap menjadi salah satu aktivitas keagamaan terbesar yang mempertemukan jutaan umat Islam setiap pekan.
Makna Salat Jumat bagi Umat Islam Modern
Di tengah kehidupan modern yang serba sibuk, salat Jumat tetap memiliki makna yang sangat relevan.
Ibadah ini menjadi pengingat agar manusia tidak larut dalam urusan dunia hingga melupakan kewajibannya kepada Allah SWT.
Perintah meninggalkan aktivitas jual beli saat azan Jumat berkumandang menunjukkan bahwa urusan ibadah harus didahulukan daripada kepentingan materi.
Selain itu, salat Jumat juga memperkuat ukhuwah Islamiyah. Dalam satu saf, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, maupun berbagai latar belakang sosial lainnya. Semua berdiri sejajar sebagai hamba Allah SWT.
Nilai persaudaraan inilah yang menjadi salah satu tujuan utama disyariatkannya salat Jumat.
Hikmah Salat Jumat dalam Kehidupan Sehari-hari
Salat Jumat bukan sekadar kewajiban mingguan, tetapi juga sarana memperbaiki diri.
Melalui khutbah, umat Islam memperoleh ilmu, nasihat, dan pengingat agar terus meningkatkan ketakwaan.
Pertemuan rutin setiap pekan juga memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat. Banyak persoalan umat dapat disampaikan, didiskusikan, bahkan diselesaikan melalui interaksi yang terjalin di lingkungan masjid.
Selain itu, salat Jumat melatih kedisiplinan waktu, kepedulian terhadap sesama, dan kebiasaan mendengarkan ilmu agama secara langsung.
Kesimpulan
Sejarah salat Jumat menunjukkan bahwa ibadah ini bukan hanya ritual mingguan, melainkan bagian penting dari perjalanan peradaban Islam. Sejak pertama kali dilaksanakan oleh Rasulullah SAW di lembah Ranuna setelah hijrah ke Madinah, salat Jumat telah menjadi simbol persatuan, dakwah, dan ketakwaan umat Islam.
Hingga saat ini, jutaan Muslim di seluruh dunia terus melaksanakan salat Jumat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah. Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai yang terkandung dalam salat Jumat tetap relevan, mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat serta mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Jumu’ah ayat 9–11.
- Sahih Muslim, Kitab Al-Jumu’ah.
- Sahih al-Bukhari, Kitab Al-Jumu’ah.
- Ar-Raheeq Al-Makhtum.
- Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam.
- Fiqh Sunnah.

