Sempetin – Kisah terbaru seputar konten kreator Willie Salim kembali mencuri perhatian publik setelah seorang mantan talent mengungkapkan sisi di balik pembuatan salah satu video giveaway yang viral. Dalam perbicangan di podcast Curhat Bang! milik Denny Sumargo, pria bernama Risky secara terbuka mengaku bahwa konten tersebut bukan kejadian spontan, melainkan telah diatur sejak awal.
Mantan Talent Ungkap Skenario Konten
Risky menyatakan dia awalnya diajak oleh asisten Willie untuk terlibat dalam pembuatan konten yang kemudian berubah menjadi video giveaway. Menurut Risky, pertemuan antara dirinya dan Willie yang terlihat natural itu sebenarnya sudah dirancang sebelumnya.
Ia mengungkapkan tim produksi telah menyiapkan skenario sedemikian rupa agar seolah terjadi secara kebetulan di jalan. Dalam konten itu, ia diperankan sebagai pengemudi ojek online yang “secara tidak sengaja” bertemu Willie dan ikut menjalankan aksi giveaway berupa pemberian uang sejumlah Rp2 juta setelah mencari pohon pisang.
Namun, menurut Risky, uang yang terlihat diberikan dalam video tersebut tidak sepenuhnya menjadi miliknya. Ia mengklaim bahwa setelah proses syuting selesai, uang itu kembali diambil oleh pihak produksi dan ia hanya menerima bayaran sekitar Rp500 ribu sebagai kompensasi.
Reaksi Media Sosial & Publik
Ungkapan Risky langsung memicu beragam komentar di media sosial. Banyak netizen yang mengkritik dan mempertanyakan keaslian konten giveaway setelah menyaksikan pengakuan sang mantan talent. Isu konten settingan menjadi pembicaraan panas di platform seperti TikTok dan Twitter, di mana sebagian netizen menilai bahwa beberapa konten kreator digital kerap menggunakan teknik storytelling dan skenario untuk menaikkan engagement.
Namun, tidak sedikit juga yang menyatakan perlunya membedakan antara format naratif hiburan dengan penipuan atau manipulasi informasi, sehingga diskusi ini berubah menjadi perdebatan seputar etika konten digital.
Klarifikasi Resmi Willie Salim
Menanggapi tudingan tersebut, Willie Salim akhirnya memberikan klarifikasi melalui unggahan di akun Instagram Story miliknya pada Minggu (25/1/2026). Dalam pernyataannya, Willie menegaskan bahwa dunia konten digital memiliki praktik umum seperti storytelling, dramatization, dan reenactment yang dimaksudkan untuk menyampaikan narasi yang menarik bagi audiens.
Willie juga menegaskan bahwa konten yang menjadi sorotan publik sebenarnya dibuat pada tahun 2023, dan ia tidak pernah berniat menipu atau merugikan pihak mana pun melalui video tersebut. Ia menyebut bahwa jika terdapat perbedaan antara apa yang ditampilkan di konten dengan kejadian di lapangan, hal itu merupakan bahan evaluasi untuk dirinya sebagai kreator.
“Aku jarang menanggapi isu, tapi karena ini sudah jadi konsumsi publik, aku merasa perlu meluruskan beberapa hal dengan kepala dingin,” tulis Willie dalam salah satu unggahan Instagram Story yang dikutip media.
Lebih lanjut, Willie menekankan bahwa ia akan tetap fokus berkarya dengan cara yang lebih baik dan memberi dampak positif melalui konten sosial serta hiburan, sambil terus belajar dari kritik yang masuk.
Etika Konten Digital: Antara Hiburan dan Transparansi
Kasus ini kembali memantik diskusi tentang bagaimana konten digital dibuat dan dikonsumsi oleh publik. Sementara beberapa pihak menilai teknik dramatisasi dan narasi sudah menjadi bagian dari industri hiburan digital, kritik muncul terkait kejelasan konteks dan transparansi kepada audiens.
Pengalaman Risky sebagai mantan talent menunjukkan perlunya kreator untuk mempertimbangkan etika dalam pembuatan konten, terutama yang melibatkan orang lain sebagai partisipan.
Tanggapan Tokoh Lain
Beberapa tokoh juga turut berkomentar atas kontroversi ini. Ustadz Derry Sulaiman misalnya, menyatakan bahwa ia mengenal sosok Willie Salim tidak hanya dari media sosial, tetapi juga dari kegiatan lapangan, termasuk misi kemanusiaan di Yordania dan Palestina. Menurutnya, Willie menunjukkan sisi bantuan sosial yang nyata di berbagai aktivitasnya, bukan sekadar konten semata.
Pendapat seperti itu menambah dimensi baru dalam diskusi ini, karena tidak semua kritik terhadap konten selalu mencerminkan keseluruhan karakter kreator di kehidupan nyata.
Bukan Kontroversi Pertama
Perlu diingat bahwa isu konten settingan bukan kali pertama mencuat terkait nama Willie Salim. Pada 2025 lalu, sebuah konten masak rendang 200 kilogram yang dibuatnya di Palembang menjadi viral dan menuai kritik tajam dari publik figur termasuk Helmy Yahya, yang merasa konten tersebut mempermalukan warga setempat.
Insiden tersebut bahkan sempat memicu rencana pelaporan ke pihak kepolisian oleh sejumlah warga karena dianggap memberikan gambaran negatif terhadap masyarakat setempat.
Kesimpulan
Isu konten settingan yang diungkap oleh mantan talent telah memicu diskusi luas tentang dunia konten kreator digital di Indonesia. Di satu sisi, mantan talent memberikan gambaran bahwa adegan tersebut telah diatur sejak awal sebagai bagian dari narasi konten. Di sisi lain, Willie Salim menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menipu atau merugikan siapa pun, dan bahwa konten yang dimaksud merupakan bagian dari proses belajar dalam berkarya.
Perdebatan ini menggambarkan tantangan dalam industri konten modern: bagaimana menyeimbangkan hiburan dan transparansi agar audiens tetap mendapatkan informasi yang jujur tanpa mengorbankan kreativitas.

