Isra Mi’raj dalam Islam, Makna, dan Hikmah Besar bagi Umat Muslim

Sempetin.com – Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan luar biasa Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga mengandung ajaran pokok yang sangat fundamental bagi umat Islam, terutama terkait kewajiban shalat.
Karena Isra Mi’raj menyangkut perkara ghaib dan akidah, maka pembahasannya harus benar-benar bersandar pada dalil yang sahih dari Al-Qur’an dan hadits, serta penjelasan para ulama yang terpercaya. Artikel ini akan membahas Isra Mi’raj secara ilmiah dan bertanggung jawab, tanpa mengarang atau menambahkan kisah-kisah yang tidak memiliki dasar kuat.

Pengertian Isra dan Mi’raj

Apa Itu Isra?
Secara bahasa, Isra berarti perjalanan malam hari. Secara istilah, Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, dengan kehendak Allah SWT.
Apa Itu Mi’raj?
Mi’raj berarti naik. Secara istilah, Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Aqsha menuju langit hingga Sidratul Muntaha, untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT.
Isra dan Mi’raj terjadi dalam satu malam, sebagaimana disepakati oleh mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dalil Al-Qur’an tentang Isra Mi’raj

Dalil Isra dalam Al-Qur’an
Isra Mi’raj memiliki dasar yang sangat jelas dalam Al-Qur’an, khususnya pada peristiwa Isra. Allah SWT berfirman:
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini secara tegas menyebutkan:
• Perjalanan terjadi pada malam hari
• Dilakukan oleh hamba-Nya (Nabi Muhammad ﷺ)
• Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha
• Dengan kekuasaan Allah SWT
Para ulama tafsir seperti Imam Ibnu Katsir, Imam At-Tabari, dan Imam Al-Qurthubi sepakat bahwa ayat ini adalah dalil sahih tentang peristiwa Isra.

Dalil Hadits Sahih tentang Isra Mi’raj

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim
Peristiwa Isra Mi’raj dijelaskan secara rinci dalam banyak hadits sahih, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Anas bin Malik رضي الله عنه.
Rasulullah ﷺ bersabda (ringkasan makna):
“Aku didatangi Buraq, hewan putih lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Aku pun menaikinya hingga sampai ke Baitul Maqdis. Lalu aku shalat di sana, kemudian aku dinaikkan ke langit…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits-hadits sahih tersebut dijelaskan:
• Nabi ﷺ melakukan perjalanan dengan jasad dan ruh
• Bertemu para nabi di langit-langit
• Naik hingga Sidratul Muntaha
• Menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT
Karena diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, hadits-hadits ini memiliki derajat sahih dan sangat kuat.

Apakah Isra Mi’raj Terjadi dengan Ruh atau Jasad?

Mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa Isra Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan terjaga, bukan mimpi.
Pendapat ini didasarkan pada:
• Lafaz “asra bi ‘abdihi” (memperjalankan hamba-Nya), yang menunjukkan manusia seutuhnya
• Reaksi kaum Quraisy yang mengingkari dan mengejek peristiwa ini, yang tidak mungkin terjadi jika hanya mimpi
• Hadits-hadits sahih yang menggambarkan detail perjalanan secara nyata
Imam Ibnu Katsir رحمه الله menegaskan bahwa pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Hikmah Besar Isra Mi’raj

  1. Peneguhan Kedudukan Nabi Muhammad ﷺ
    Isra Mi’raj menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi dan rasul.
  2. Kewajiban Shalat Lima Waktu
    Perintah shalat lima waktu adalah hasil utama dari Isra Mi’raj. Tidak ada ibadah lain yang diperintahkan secara langsung tanpa perantara malaikat, kecuali shalat.
    Awalnya shalat diwajibkan 50 waktu, lalu diringankan menjadi 5 waktu dengan pahala 50 waktu, sebagaimana hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim.
  3. Ujian Keimanan bagi Kaum Muslimin
    Peristiwa Isra Mi’raj menjadi ujian keimanan. Orang yang beriman akan membenarkannya, sementara orang yang ragu akan menolaknya. Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه mendapat gelar Ash-Shiddiq karena langsung membenarkan peristiwa ini.
  4. Penghibur Rasulullah ﷺ
    Isra Mi’raj terjadi setelah Nabi ﷺ mengalami masa sulit, termasuk wafatnya Khadijah رضي الله عنها dan Abu Thalib. Peristiwa ini menjadi penghibur dan penguat hati Rasulullah ﷺ.

Kesalahan Umum dalam Memahami Isra Mi’raj

Beberapa hal yang perlu diluruskan:
• Tidak semua kisah detail yang beredar tentang Isra Mi’raj memiliki dalil sahih
• Penentuan tanggal pasti Isra Mi’raj masih diperselisihkan ulama
• Tidak ada dalil sahih yang mewajibkan perayaan khusus Isra Mi’raj
Para ulama menekankan agar umat Islam fokus pada ibrah dan pengamalan shalat, bukan sekadar seremonial.

Kesimpulan
Isra Mi’raj adalah peristiwa agung yang berdasarkan dalil sahih dari Al-Qur’an dan hadits. Peristiwa ini menegaskan kekuasaan Allah SWT, kemuliaan Rasulullah ﷺ, serta kewajiban shalat sebagai tiang agama.
Sebagai umat Islam, sikap yang benar terhadap Isra Mi’raj adalah:
• Mengimaninya dengan penuh keyakinan
• Memahami maknanya berdasarkan dalil yang sahih
• Mengamalkan pesan terbesarnya, yaitu menjaga shalat lima waktu
Semoga artikel ini membantu kita memahami Isra Mi’raj secara benar, ilmiah, dan sesuai dengan ajaran Islam yang autentik.

More From Author

Tentang Doa yang Tak Kunjung Dikabulkan, Apa yang Sedang Allah Ajarkan?

Makna di Balik Can This Love Be Translated? Ketika Bahasa Gagal Menjelaskan Perasaan