Sempetin – Hujan ekstrem yang melanda Sumatera Utara pada akhir November 2025 memicu banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah, menewaskan puluhan warga, merusak ribuan rumah, serta memaksa ribuan orang mengungsi. Pemerintah pusat dan daerah segera menurunkan tim SAR, BNPB, dan bantuan logistik, sementara BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem lanjutan.
Sejak 24–27 November 2025, curah hujan meningkat tajam akibat pengaruh sistem cuaca tropis termasuk bibit siklon (95B) dan pola konvergensi di Selat Malaka. Hujan deras yang berlangsung berjam-jam menyebabkan sungai meluap, tanah jenuh air mempercepat longsoran, serta aliran material kayu dan bebatuan membentuk banjir bandang yang menerjang permukiman dan kawasan perbukitan. Wilayah terdampak meliputi Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Humbang Hasundutan, Langkat, Mandailing Natal, serta beberapa kabupaten lain.
Menurut data terbaru Polda Sumut, tercatat total 72 korban terdampak langsung dengan rincian 24 orang meninggal dunia, 37 luka ringan, 6 luka berat, dan 5 masih dalam pencarian. Bencana ini terjadi di 11 kabupaten/kota, termasuk Mandailing Natal, Nias, Nias Selatan, Pakpak Bharat, Serdang Bedagai, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Padangsidimpuan, dan Kota Sibolga. Total terdapat 86 titik bencana, terdiri atas 59 longsor, 21 banjir, 4 pohon tumbang, dan 2 puting beliung.
BNPB dan BPBD telah menetapkan status siaga darurat serta memobilisasi bantuan logistik dan peralatan evakuasi. Personel BPBD turut dikirim ke lokasi beserta peralatan penanganan, termasuk perahu karet, mesin perahu, dongkrak angin, genset, pompa jinjing dan kohler, tenda pengungsi, jaringan komunikasi satelit Starlink, chainsaw, dan 42 unit lampu lentera. Bantuan senilai Rp60 juta juga telah disiapkan untuk mendukung proses penanganan dan evakuasi. Namun distribusi beberapa bantuan masih terkendala akses akibat jalur yang tertutup material longsor.
Ketua DPR RI Puan Maharani turut menyampaikan keprihatinan dan meminta percepatan evakuasi serta pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. Ia menekankan perlunya penanganan psikologis bagi warga terdampak. “Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait perlu menyiapkan layanan trauma healing, terutama bagi mereka yang kehilangan dan mengalami dampak berat,” ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem lanjutan. Warga diminta segera menuju titik evakuasi saat peringatan dini dikeluarkan, menghindari aliran air banjir dan area lereng yang baru mengalami longsor. Dokumen penting dan perlengkapan darurat perlu disiapkan, serta selalu memantau update resmi dari BMKG, BNPB/BPBD, dan posko setempat.
Peristiwa ini menegaskan urgensi penguatan mitigasi jangka panjang, termasuk peningkatan sistem peringatan dini, reboisasi daerah aliran sungai dan tebing kritis, penataan ruang, perbaikan drainase, serta penguatan kapasitas SAR dan logistik daerah agar respons bencana lebih cepat dan efektif.

