Jangan Sepelekan! Inilah 8 Larangan di Bulan Rajab Menurut Al-Qur’an dan Ulama

Sempetin- Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam Islam. Ia termasuk ke dalam empat bulan haram (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan Allah SWT. Bulan-bulan ini bukan hanya dimuliakan dari sisi nama, tetapi juga dari sisi hukum dan etika perilaku umat Islam di dalamnya. Karena itu, bulan Rajab bukan hanya waktu untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga momentum penting untuk menjauhi berbagai larangan dan perbuatan dosa.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan-bulan itu.”
(QS. At-Taubah: 36)
Ayat ini menjadi landasan utama bahwa di bulan-bulan haram, termasuk Rajab, larangan melakukan dosa dan kezaliman lebih ditekankan. Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dosa yang dilakukan di bulan haram lebih besar dosanya, sebagaimana amal kebaikan juga lebih besar pahalanya.
Berikut ini adalah 8 larangan di bulan Rajab yang tidak boleh dilanggar, dirangkum dari Al-Qur’an, kitab tafsir, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.

1. Berperang dan Memulai Permusuhan

Larangan paling dikenal di bulan Rajab adalah berperang atau memulai permusuhan. Pada masa Arab pra-Islam, bulan Rajab sudah dihormati dan dijadikan bulan damai. Islam kemudian menegaskan dan meluruskan tradisi tersebut.
Allah SWT berfirman:
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: Berperang pada bulan itu adalah dosa besar.”
(QS. Al-Baqarah: 217)
Menurut para ulama tafsir, larangan ini menunjukkan bahwa bulan haram diciptakan sebagai waktu aman, agar manusia dapat beribadah dan melakukan aktivitas sosial tanpa konflik. Meskipun dalam kondisi tertentu perang dibolehkan untuk membela diri, namun secara prinsip, memulai konflik di bulan Rajab adalah perbuatan tercela.

2. Berbuat Zalim kepada Diri Sendiri dan Orang Lain

Larangan utama di bulan Rajab adalah berbuat zalim, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Zalim mencakup semua bentuk pelanggaran syariat, seperti mencuri, menipu, menindas, atau meremehkan hak orang lain.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa larangan “jangan menganiaya diri” dalam QS. At-Taubah ayat 36 bermakna larangan memperbanyak dosa di bulan haram, karena dosanya dilipatgandakan.
Zalim kepada diri sendiri juga termasuk melalaikan kewajiban, seperti meninggalkan shalat atau sengaja bermaksiat.

3. Durhaka kepada Orang Tua

Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar sepanjang waktu, namun di bulan Rajab larangan ini menjadi lebih berat. Islam sangat menekankan adab dan bakti kepada orang tua, terlebih di waktu-waktu yang dimuliakan Allah.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa menjaga hubungan baik dengan orang tua termasuk bentuk penghormatan terhadap waktu yang dimuliakan, karena akhlak yang baik merupakan inti dari ketakwaan.
Bentuk durhaka meliputi berkata kasar, membantah, mengabaikan kebutuhan orang tua, atau menyakiti hati mereka.

4. Kesombongan dan Merendahkan Orang Lain

Sifat sombong (takabbur) merupakan penyakit hati yang sangat dibenci dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meski sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)
Di bulan Rajab, umat Islam dituntut untuk lebih menjaga hati, menjauhi rasa bangga diri, merasa lebih suci, atau merendahkan orang lain. Menurut para ulama tasawuf, kesombongan dapat menggugurkan pahala amal, meskipun dilakukan di bulan mulia.

5. Riya’ dan Pamer Ibadah

Riya’ adalah melakukan ibadah dengan tujuan mendapatkan pujian manusia, bukan karena Allah. Ini termasuk dosa hati yang sangat halus namun berbahaya.
Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan bahwa bulan-bulan mulia seperti Rajab seharusnya menjadi waktu untuk meluruskan niat, bukan ajang pamer kesalehan. Riya’ di bulan Rajab bukan hanya menghilangkan pahala, tetapi juga menunjukkan sikap tidak menghormati kemuliaan waktu yang Allah tetapkan.

6. Maksiat Lisan: Ghibah, Fitnah, dan Dusta

Ucapan adalah salah satu sumber dosa terbesar. Di bulan Rajab, umat Islam dilarang keras melakukan maksiat lisan, seperti:
• Ghibah (menggunjing)
• Fitnah
• Dusta
• Ucapan kasar dan menyakitkan
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa menjaga lisan adalah bagian dari menghormati bulan-bulan haram, karena kerusakan akibat ucapan seringkali lebih besar daripada perbuatan fisik.

7. Hasad dan Dengki

Hasad (iri dan dengki) adalah penyakit hati yang dapat merusak iman dan hubungan sosial. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, dan saling membelakangi.”
(HR. Muslim)
Di bulan Rajab, sifat hasad harus lebih dihindari karena bertentangan dengan tujuan bulan haram, yaitu menciptakan kedamaian batin dan sosial. Para ulama menyebutkan bahwa hasad dapat menghapus amal kebaikan sebagaimana api menghabiskan kayu bakar.

8. Maksiat Mata dan Syahwat

Larangan terakhir yang sering diremehkan adalah maksiat melalui pandangan dan syahwat. Menundukkan pandangan adalah perintah Al-Qur’an yang berlaku setiap waktu, namun di bulan Rajab larangan ini semakin ditekankan.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya.”
(QS. An-Nur: 30)
Para ulama menjelaskan bahwa maksiat mata sering menjadi pintu masuk dosa besar lainnya. Oleh karena itu, menjaga pandangan di bulan Rajab termasuk bentuk penghormatan terhadap kesucian bulan haram.

Hikmah Larangan di Bulan Rajab Menurut Ulama

Para ulama menjelaskan bahwa larangan-larangan di bulan Rajab bukan untuk memberatkan, tetapi untuk:

  1. Melatih pengendalian diri
  2. Meningkatkan kesadaran spiritual
  3. Membersihkan hati dari penyakit
  4. Mempersiapkan diri menuju Ramadhan
    Rajab menjadi momentum evaluasi akhlak, bukan sekadar rutinitas ibadah.

Kesimpulan
Bulan Rajab adalah bulan mulia yang menuntut umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam perbuatan dan sikap. Delapan larangan di bulan Rajab yang telah dijelaskan di atas pada dasarnya adalah larangan dosa dalam Islam, namun tingkat larangannya lebih berat karena Rajab termasuk bulan haram.
Dengan menjauhi larangan-larangan tersebut, seorang Muslim tidak hanya menghormati bulan Rajab, tetapi juga melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, berakhlak, dan siap menyambut bulan-bulan mulia berikutnya.
Semoga Allah SWT memberi kita taufik untuk menjaga diri di bulan Rajab dan mengisinya dengan kebaikan yang diridhai-Nya.

More From Author

Keutamaan Istighfar, Kunci Ampunan, Rezeki, dan Ketenangan Hati Menurut Ulama

Tiba-Tiba Gebetan Aneh? Bisa Jadi Bukan Hilang Rasa, Tapi Lagi Ngetes Kamu