Sempetin.com – Kasus hilangnya Mozza Axillia Gunarsa, remaja asal Kabupaten Semarang, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana sebuah kehilangan dapat berlangsung begitu lama sebelum akhirnya menemukan titik terang.
Mozza dilaporkan hilang pada Juni 2025. Hampir setahun kemudian, penyelidikan mengarah kepada seorang pria berinisial MDVA atau Mahendra Very Dwi Anggara. Polisi kemudian mengungkap bahwa Mozza diduga menjadi korban pembunuhan dan jenazahnya ditemukan di kawasan jurang Tol Jangli, Semarang.
Namun ada fakta lain yang tak kalah penting: petunjuk penting justru ditemukan dari perangkat elektronik milik keluarga korban.
Chat di Media Sosial Jadi Titik Balik
Ayah Mozza, Singgih Gunarsa, tidak berhenti mencari putrinya setelah laporan kehilangan dibuat.
Saat memeriksa tablet yang masih terhubung dengan akun media sosial Mozza, ia menemukan percakapan antara putrinya dan seseorang yang kemudian menjadi bagian penting dalam penyelidikan.
Polisi menyebut percakapan tersebut menjadi salah satu alat bukti yang mengarahkan penyelidikan kepada orang yang diduga terakhir berinteraksi dengan Mozza. Dari sana, aparat menelusuri informasi hingga sebuah rumah kos di Jalan Sriwijaya, Semarang.
Di titik inilah teknologi sederhana berubah menjadi petunjuk besar.
Sebuah percakapan digital yang masih tersimpan ternyata mampu membuka kembali kasus yang sebelumnya seperti kehilangan arah.
Mozza Hilang, Keluarga Menanggung Ketidakpastian
Mozza dilaporkan hilang pada 28 Juni 2025. Polisi kemudian menyebut pembunuhan diduga terjadi tiga hari sebelumnya, pada 25 Juni 2025.
Rentang waktu tersebut memperlihatkan betapa panjang ketidakpastian yang harus dilalui keluarga.
Bagi keluarga korban, kasus orang hilang bukan sekadar perkara administratif. Setiap hari tanpa kepastian berarti keluarga harus hidup dengan pertanyaan yang tidak terjawab.
Apakah korban masih hidup?
Di mana keberadaannya?
Siapa yang terakhir berkomunikasi dengannya?
Dan yang paling menyakitkan: apa sebenarnya yang terjadi?
Karena itu, kasus Mozza seharusnya tidak berhenti sebagai kisah kriminal yang viral sesaat. Ia juga menjadi pengingat bahwa pencarian orang hilang membutuhkan respons yang serius, sistematis, dan tidak boleh kehilangan momentum.
Dari Percakapan Digital hingga Penangkapan
Setelah menemukan komunikasi di media sosial, penyelidik menelusuri identitas orang yang diduga berkaitan dengan korban.
Polisi kemudian mengarah kepada MDVA setelah menggali informasi dari pemilik dan penghuni rumah kos. Pria tersebut ditangkap pada 3 September 2026. Dari pemeriksaan, polisi memperoleh informasi mengenai lokasi korban terakhir berada.
Keterangan tersebut kemudian membawa petugas ke kawasan Tol Jangli.
Kerangka manusia yang ditemukan di lokasi pada akhirnya diidentifikasi sebagai Mozza. Proses pengungkapan itu sekaligus mengakhiri penantian panjang keluarga mengenai keberadaan korban.
Setahun Bukan Waktu yang Singkat
Di sinilah pertanyaan kritis layak diajukan.
Mengapa sebuah kasus kehilangan membutuhkan waktu begitu panjang sebelum menemukan titik terang?
Memang, penyelidikan kasus orang hilang tidak selalu mudah. Informasi awal dapat terbatas, lokasi korban tidak diketahui, dan bukti bisa tersebar di berbagai tempat.
Tetapi kasus Mozza memperlihatkan betapa pentingnya mengoptimalkan setiap sumber informasi sejak awal, termasuk jejak digital yang ditinggalkan korban.
Jangan sampai keluarga justru menjadi pihak yang harus bekerja ekstra keras untuk menemukan petunjuk yang seharusnya ikut menjadi bagian dari proses penyelidikan.
Teknologi sudah berubah. Cara orang berkomunikasi juga berubah. Karena itu, metode pencarian orang hilang pun harus mampu mengikuti perubahan tersebut.
Polisi Tetap Harus Membuktikan Semuanya
Terungkapnya seorang terduga pelaku bukan berarti seluruh perkara selesai.
Polisi masih harus memastikan rangkaian peristiwa berdasarkan alat bukti yang sah dan membangun konstruksi perkara secara utuh. Penetapan tersangka dan proses hukum harus berjalan sesuai ketentuan, sementara pengadilan nantinya yang menentukan kesalahan pidana seseorang.
Polisi sebelumnya menyebut kasus tersebut masih dalam proses gelar perkara bersama jajaran terkait untuk menentukan kewenangan penanganannya.
Sikap hati-hati ini penting.
Kasus yang menyita perhatian publik tidak boleh membuat proses hukum berubah menjadi pengadilan di media sosial.
Keluarga Berhak Mendapat Kepastian
Bagi keluarga Mozza, kepastian mengenai keberadaan putrinya akhirnya datang dengan kenyataan yang sangat pahit.
Setelah pencarian panjang, mereka bukan mendapatkan kabar bahwa Mozza pulang dalam keadaan selamat, melainkan mengetahui bahwa putrinya telah meninggal.
Namun setidaknya, misteri mengenai keberadaannya mulai terurai.
Di sisi lain, perjuangan Singgih menunjukkan satu hal yang tidak boleh dilupakan: keluarga korban bukan sekadar pelengkap dalam sebuah perkara pidana. Mereka adalah pihak yang paling lama menanggung dampak dari sebuah kehilangan.
Karena itu, ketika kasus seperti ini terjadi, aparat harus memastikan keluarga mendapatkan informasi yang jelas, pendampingan yang layak, dan kepastian proses hukum.
Jangan Sampai Kasus Orang Hilang Menjadi Sekadar Angka
Kasus Mozza juga seharusnya menjadi bahan evaluasi.
Orang hilang bukan sekadar satu laporan dalam tumpukan administrasi. Di balik satu nama ada keluarga, teman, sekolah, dan kehidupan yang tiba-tiba berubah.
Jejak digital dapat menjadi bagian penting dari pencarian, tetapi teknologi bukan pengganti kerja investigasi. Yang dibutuhkan adalah kombinasi antara laporan keluarga, pemeriksaan saksi, penelusuran digital, pencarian lapangan, dan koordinasi antarlembaga.
Jika semua unsur tersebut bergerak cepat dan terintegrasi, peluang menemukan titik terang tentu semakin besar.
Kesimpulan
Kasus pembunuhan Mozza akhirnya menemukan titik terang setelah lebih dari setahun sejak korban dilaporkan hilang. Salah satu petunjuk penting berasal dari percakapan di media sosial yang ditemukan ayah korban dari perangkat milik putrinya.
Kisah ini bukan hanya tentang bagaimana polisi akhirnya menemukan terduga pelaku.
Ini juga tentang keluarga yang menolak berhenti mencari.
Dan sekaligus menjadi kritik penting: jangan biarkan keluarga korban harus berjuang sendirian untuk menemukan jawaban atas hilangnya orang yang mereka cintai.
Ketika seseorang dinyatakan hilang, waktu sangat berharga. Setiap petunjuk harus ditelusuri. Setiap informasi harus diperiksa. Dan setiap keluarga berhak mendapatkan kepastian secepat mungkin.
Sebab bagi keluarga korban, satu tahun bukan sekadar angka dalam kalender. Itu adalah satu tahun penuh ketidakpastian.

