Sempetin.com – Pernah nggak, bangun pagi dengan badan masih capek, tapi kepala langsung penuh rasa bersalah? Bukan karena telat bangun, tapi karena merasa hari itu belum ngapa-ngapain. Padahal baru juga buka mata. Di satu sisi, tubuh pengin rebahan lebih lama. Di sisi lain, pikiran sudah teriak, “Hari ini harus produktif.”
Selamat datang di realita toxic productivity di kalangan remaja sebuah kondisi ketika sibuk dan capek justru dianggap prestasi, sementara istirahat diperlakukan seperti dosa.
Di usia yang seharusnya jadi masa eksplorasi, banyak remaja justru hidup dengan tekanan untuk terus bergerak, terus berkembang, dan terus terlihat sukses. Bukan nanti, tapi sekarang.
Media sosial punya peran besar dalam membentuk standar ini. Cukup satu kali scroll, kamu akan melihat teman sebaya yang ikut lomba ini-itu, magang di tempat bergengsi, punya bisnis kecil-kecilan, sambil tetap kelihatan bahagia dan glowing. Semua tampak rapi. Semua tampak terkendali. Tidak ada cerita tentang lelah, ragu, atau pengin berhenti sebentar.
Dari situlah muncul pikiran yang pelan-pelan merusak: “Kalau mereka bisa, kenapa aku nggak?”
Masalahnya, toxic productivity sering disalahartikan sebagai ambisi. Padahal, keduanya tidak selalu sama. Ambisi yang sehat biasanya datang dari keinginan pribadi mau belajar, mau berkembang, mau mencoba hal baru. Sementara toxic productivity lebih sering lahir dari rasa takut: takut tertinggal, takut dianggap malas, takut tidak cukup hebat.
Akhirnya, banyak remaja yang melakukan sesuatu bukan karena ingin, tapi karena merasa harus.
Budaya hustle yang diagungkan juga ikut memperparah keadaan. Kalimat seperti “mumpung masih muda”, “tidur itu nanti”, atau “capek dikit nggak apa-apa” terdengar memotivasi, tapi tanpa sadar menormalisasi kelelahan. Remaja diajarkan bahwa capek adalah tanda perjuangan, dan istirahat adalah bentuk kemalasan yang harus dihindari.
Padahal, tubuh dan pikiran punya batas. Ketika batas itu terus dilanggar, yang muncul bukan kesuksesan, tapi kelelahan berkepanjangan. Banyak remaja terlihat aktif dan produktif di luar, tapi menyimpan rasa kosong di dalam. Hari-hari dipenuhi target, tapi kehilangan rasa senang. Setiap pencapaian hanya memberi bahagia sesaat, lalu digantikan tuntutan berikutnya.
Di titik ini, toxic productivity di kalangan remaja mulai menunjukkan dampaknya. Burnout tidak lagi jadi masalah orang dewasa. Kecemasan, overthinking, bahkan depresi bisa muncul di usia yang masih sangat muda. Ironisnya, semua itu sering tidak terlihat, karena mereka tetap “berfungsi” dan terlihat sibuk.
Yang lebih menyedihkan, banyak remaja merasa bersalah saat mereka ingin berhenti sejenak. Saat memilih istirahat, muncul suara di kepala yang mengatakan, “Harusnya kamu bisa lebih.” Seolah-olah nilai diri ditentukan dari seberapa penuh jadwal harian.
Padahal, produktif itu seharusnya membantu hidup, bukan menguasainya.
Produktivitas yang sehat memberi ruang untuk gagal, bernafas, dan menikmati proses. Sementara toxic productivity menuntut kesempurnaan tanpa henti. Di sana, hidup berubah jadi daftar tugas yang tidak pernah selesai. Bahkan hobi pun berubah fungsi, bukan lagi untuk bersenang-senang, tapi untuk menambah nilai jual diri.
Pelan-pelan, identitas diri pun ikut terkikis. Remaja mulai sulit menjawab pertanyaan sederhana seperti, “Aku sebenarnya suka apa?” karena terlalu lama hidup demi ekspektasi orang lain.
Lingkungan juga tidak bisa lepas tangan. Tekanan dari sekolah, keluarga, dan pergaulan sering kali tidak disadari. Pujian lebih sering diberikan pada yang paling sibuk dan paling berprestasi, bukan pada mereka yang berusaha menjaga keseimbangan. Akhirnya, pesan yang tertanam jelas: nilai dirimu tergantung dari seberapa banyak yang kamu capai.
Padahal, tidak semua orang tumbuh dengan ritme yang sama. Ada yang cepat, ada yang pelan. Dan itu tidak apa-apa.
Keluar dari toxic productivity bukan berarti menyerah atau jadi pemalas. Ini tentang mengembalikan kendali atas hidup sendiri. Tentang belajar mendengarkan tubuh, mengakui lelah, dan berani berhenti tanpa merasa gagal. Tentang melakukan sesuatu karena memang bermakna, bukan karena takut tertinggal.
Di dunia yang terus mendorong remaja untuk jadi “lebih” setiap saat, mungkin hal paling radikal adalah berani berkata, “Cukup untuk hari ini.”
Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa paling sibuk atau paling cepat sampai. Hidup adalah perjalanan panjang, dan tidak ada gunanya berlari kencang kalau kamu kehilangan diri sendiri di tengah jalan.
Jadi, kalau hari ini kamu memilih istirahat, itu bukan tanda kalah. Itu tanda kamu masih peduli pada diri sendiri. Dan di tengah hiruk-pikuk toxic productivity di kalangan remaja, kepedulian itu justru hal yang paling langka dan paling penting.

