Yang Tertinggal di Dapur Ibu Lastri

Rumah itu berdiri di ujung kampung, jauh dari jalan besar.
Dindingnya papan lapuk, catnya mengelupas, dan di belakangnya tumbuh pohon pisang yang daunnya bergetar setiap kali angin sore lewat.
Kalau kau berjalan mendekat, kau bisa mencium bau kemenyan yang samar, bercampur wangi kunyit yang menguap dari dapur tua di dalam rumah itu.

Itulah rumah Bu Lastri perempuan tua yang selalu disebut orang-orang kampung sebagai โ€œorang pintar.โ€
Sebagian datang padanya untuk berobat. Sebagian lagi datang diam-diam, membawa foto dan sehelai rambut orang yang mereka sebut โ€œpenyebab luka.โ€

Dan di antara mereka yang datang, suatu sore, datanglah Rina.


Rina dulu gadis lembut, dengan rambut panjang dan suara pelan.
Ia bekerja di toko pakaian di kota kecil itu.
Empat tahun lamanya, ia menjalin cinta dengan Doni lelaki sederhana yang menjemputnya setiap sore dengan motor tuanya.
Hidup mereka tenang, atau setidaknya terlihat begitu.

Sampai suatu hari, Doni berhenti datang.
Pesan Rina tidak dibalas. Teleponnya tak diangkat.
Dan seminggu kemudian, dunia Rina runtuh ketika ia menerima undangan putih:
Doni & Mira.
Nama yang tertulis di kertas itu menusuk seperti pisau tumpul. Mira adalah teman sekantor Rina sendiri.


Hari-hari setelah itu berjalan lambat dan dingin.
Rina berhenti makan, berhenti bicara.
Ia bangun pagi hanya untuk duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang sunyi.
Di dadanya, sesuatu berputar bukan hanya sedih, tapi juga ketidakadilan yang menyesakkan.

Ia tak ingin Doni mati. Ia hanya ingin Doni ingat.
Bahwa ia pernah ada. Bahwa ia pernah dicintai.

Sampai pada akhirnya, dalam satu sore mendung, Rina melangkah ke rumah Bu Lastri.


Dapur itu remang. Di ujungnya, ada meja kayu dengan kendi tanah liat, segelas air bening, dan dupa yang terbakar perlahan.
Asapnya melingkar, menempel di langit-langit.
Bu Lastri duduk di sudut, menatap Rina dari balik kacamata tebal.

โ€œKau datang karena cinta, ya?โ€ suaranya serak tapi lembut.
Rina menunduk. โ€œSaya cuma ingin dia ingat saya lagi.โ€

Bu Lastri tersenyum samar, lalu mengangguk pelan.

โ€œKalau itu yang kau mau… aku bantu. Tapi ingat, Nak apa pun yang lahir dari air mata, akan kembali ke air mata.โ€

Rina hanya mengangguk. Ia menyerahkan foto Doni, sehelai rambutnya, dan sepotong kuku yang digunting pagi tadi.
Bu Lastri mulai berbisik, pelan, dalam bahasa yang tak dimengerti Rina.
Dupa menebal. Air dalam kendi bergetar.
Dan dari sela-sela asap itu, Rina mencium wangi yang aneh wangi basah seperti tanah setelah hujan bercampur besi berkarat.


Malam pertama setelah itu, Rina bermimpi.
Dalam mimpinya, Doni berdiri di depan rumah.
Senyumnya sama seperti dulu, tapi matanya kosong.
Ia mengetuk pintu, tapi suaranya aneh, serak, seperti berasal dari dalam air.

โ€œRinโ€ฆ kamu panggil aku, ya?โ€

Rina terbangun dengan air mata di pipi.
Dan di bawah kasurnya, lantai yang biasanya kering kini lembab seolah ada sesuatu yang menetes dari bawah tanah.


Beberapa hari kemudian, kabar datang: Doni jatuh sakit.
Tubuhnya kurus, kulitnya pucat, dan setiap malam ia mengigau menyebut nama Rina.
Mira, istrinya, datang menemui Rina dengan wajah ketakutan.

โ€œRinaโ€ฆ kamuโ€ฆ kamu pergi ke rumah Bu Lastri, ya?โ€
โ€œKenapa kau tanya begitu?โ€
โ€œKarena Doni terus minta air dari tanganmu. Katanya cuma itu yang bisa bikin dia tenang.โ€

Rina diam.
Hanya diam.
Dan malam itu, ia menangis. Tapi bukan karena bersalah melainkan karena untuk pertama kalinya, Doni memanggil namanya lagi.


Tiga malam setelahnya, Doni meninggal.
Tanpa sebab. Tanpa luka. Hanya tubuh membiru dan mata terbuka.

Rina tidak datang ke pemakaman.
Ia hanya duduk di kamarnya, menatap baskom kecil di bawah kasur tempat air itu selalu muncul setiap malam.
Air bening dengan kilau merah samar.
Setiap kali ia menatapnya, bayangan Doni muncul sebentar di permukaan. Tersenyumโ€ฆ lalu tenggelam perlahan.


Waktu berjalan.
Musim hujan datang.
Tapi rumah Rina tetap dingin bukan karena cuaca, tapi karena sesuatu di dalam dirinya berhenti hidup.

Ia mulai sakit.
Tubuhnya lemas, matanya cekung, dan kadang di tengah malam ia mendengar suara tetesan air yang tak berhenti.
Pluk… pluk… pluk…
Dan setiap tetes jatuh, ia merasakan sesak di dada.

Suatu malam, Rina memutuskan untuk kembali ke rumah Bu Lastri.
Tapi rumah itu sudah kosong.
Dapur hangus separuh, seolah terbakar dari dalam.
Di sudut meja yang gosong, hanya tersisa kendi pecah, dan di lantainya… genangan air berbau besi.


Malam itu, Rina tidur tanpa mimpi.
Untuk pertama kalinya, kamar terasa tenang.
Tapi ketika ia bangun keesokan paginya, ia melihat sesuatu di cermin.
Matanya sendiri… tapi di dalamnya, bayangan lain berdiri perempuan tua dengan rambut panjang, tersenyum.

โ€œApa pun yang lahir dari air mata, akan kembali ke air mataโ€ฆโ€

Dan dari bawah kasur, suara itu datang lagi.
Pelan. Ritmis. Tak pernah berhenti.

Pluk… pluk… pluk…


Orang-orang bilang, dendam adalah bentuk cinta yang tak diterima.
Dan cinta yang menolak pergi bahkan setelah mati selalu mencari tempat untuk tinggal.
Kadang di mimpi. Kadang di bawah kasur.
Kadang… di dalam diri orang yang terlalu lama menangis.

More From Author

tidur lima menit lagi

Kenapa Tidur Lima Menit Lagi Bisa Jadi Keputusan Paling Fatal di Pagi Hari

davina karamoy

Biodata dan Fakta Menarik Davina Karamoy, Si Cantik yang Curi Perhatian di Dunia Perfilman Indonesia